Monday, February 23, 2009

Ikhwanul Muslimin @ Ikhwanul Muflisin


Apabila membaca tajuk post saya kali ini, mungkin ada antara sahabat-sahabat yang akan marah kerana tajuknya yang kurang enak didengar. Namun tujuan saya bukanlah untuk mengundang ketidak-puasan hati sesiapa, mahupun mewujudkan controversial issue. Tajuk ini adalah tajuk sebuah buku yang ditulis oleh Ustaz Rasul Dahri. Cousin saya telah memperkenalkan kepada saya buku ini kepada saya sejak tahun lepas, namun mungkin kerana saya belum bersedia (dan takut) untuk membacanya, saya sentiasa menangguh-nangguhkan masa dan peluang untuk membaca buku ini.

Tetapi apabila saya sudah mula mengenali manhaj salaf dan sedikit sebanyak sudah membaca beberapa buah buku yang ditulis oleh mereka yang bermanhaj salaf, saya sudah berkeyakinan untuk membaca buku ini. Tambahan pula saya berjumpa semula dengan buku ini di Perpustakaan UKM. Oleh itu, dengan keyakinan bahawa hidayah itu milik Allah, dan tidak membaca sesebuah buku agama yang baik itu adalah hasutan syaitan sahaja, maka saya pinjam buku ini dan sudah mula membacanya (tapi belum habis lagi) =).

Oleh itu saranan saya kepada sahabat-sahabat, terutamanya mereka yang mengetahui mengenai aliran dakwah Ikhwanul Muslimin, marilah kita cuba membaca buku ini. Sekiranya asbab daripada membaca buku ini dengan hati yang terbuka dan ikhlas (insyaAllah), Allah memberi kita hidayah dalam memahami perjuangan dakwah IM, maka kita mengucapkan Alhamdulillah. Dan sekiranya ada terdapat terdapat sebarang kesalahan fakta atau apa-apa kesilapan yang perlu diperbetulkan, maka semestinya menjadi tanggungjawab kita untuk saling memperbetulkan kesalahan / kesilapan dengan bertanya dan memberi komentar kepada penulisnya. Namun begitu, saya berbaik sangka bahawa Ustaz Rasul Dahri telah menulis buku ini dengan amanah dan beliau sedia untuk menerima sebarang teguran dan komen untuk kebaikan pembaca dan umat Islam di Malaysia umumnya.

Oleh itu kita sama-sama beringat bahawa bukan semua yang kita sangka itu baik/benar itu benar dan bukan semua yang kita sangka buruk/salah itu buruk/salah sekiranya semua adalah masih dalam kategori SANGKAAN. Oleh itu, saya rasa adalah menjadi kecuaian dan keculasan kita sekiranya kita tidak menyelidiki kebenaran sesuatu sangkaan itu sehingga kita menyebabkan sangkaan-sangkaan yang tersilap ini berterusan mendiami pemikiran dan mindset kita.

Tapi dalam menyelidik ini juga, selain kita harus mempunyai fikiran yang terbuka kita mesti berpegang pada dasar yang benar dalam menentukan sesuatu. Dalam Islam, tiada agama yang benar melainkan Islam dan jalan kebenaran itu adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah sallallahu'alaihiwasallam, para sahabat, tabi' dan tabi'ut taabiin dan mereka yang mengikut jalan ini dengan baik (Salafus Soleh) , lebih tepat lagi saya katakan Ahli Sunnah Wal Jama'ah (Salafus Soleh). Janganlah kerana kita mengikuti , berintima', berdaftar atau berbai'ah kepada sesuatu kumpulan atau kelompok, kita menjadi taksub kepada kelompok itu sahaja dan menutup mata kepada hujah kebenaran yang datang kepada kita.


Diriwayatkan oleh Ibn Umar ra yang bermaksud

" Akan datang kepada umatku perkara seperti yang pernah menimpa kaum bani Israel , selangkah demi selangkah sehingga akan berlaku dikalangan mereka yang berzina dengan ibunya secara terang-terangan. Sehingga ada umatku akan melakukan sedemikian. Sesungguhnya umat bani Israel berpecah kepada 72 golongan dan akan berpecah umatku kepada 73 golongan dan kesemuanya di neraka kecuali satu golongan. Maka bertanyalah para sahabat ra kepada baginda akan siapakah golongan yang satu itu wahai rasulullah ? Maka jawab baginda " Golongan yang aku berada di dalamnya dan para sahabatku ."

(Hadith Hasan, riwayat Tirmidzi no.26 Jilid 5, Hakim no.218 Jilid 1).

Firman Allah (maksudnya):
" Golongan yang terdahulu daripada Muhajirin dan Ansor dan golongan
yang mengikuti mereka dengan ehsan maka telah redhalah Allah kepada mereka dan mereka pun merasa redha dengan Allah"

(At-taubah : 100).

Jalan Ikhwanul Muslimin adalah jalan dakwah. Namun kenapakah buku ini memberi nama yang lain kepada Ikhwanul Muslimin? Malah nama ini sangat bertentangan dengan nama yang asal iaitu Ikhwanul Muflisin.

Hmm, ada seorang sahabat saya suka menulis sebuat motto yang berbunyi

A leader is a reader.

So, apalagi... let's read!

Terima Kasih - Thank You- Syukran Jazilan- Pounsikou everyone for reading this post. If you find this post somehow inappropriate in any term "you-like-to-define", kindly specify your suggestions or comments in comments box below.
Manittaba'al Huda Wal 'Inayah Minallahi Ta'ala

Salaf dan Salafi (Lets brief study)

Adakah anda seorang salafi? Adakah saya seorang salafi? Apakah kita perlu menjadi salafi?

Banyak yang saya belum tahu dalam pengajian mengenai manhaj ini. Sebelum ini saya tidak familiar dengan istilaf salaf atau salafi walaupun saya belajar di sekolah aliran agama dan mengikuti usrah-usrah semasa zaman kampus. Mungkin juga kerana salah letak pada priority pemahaman agama dan tujuan dakwah, menyebabkan saya tidak mengambil endah kepada pemahaman mengenai salaf/salafi, dan mungkin juga kerana kurangnya pendedahan kepada manhaj ini.

Jadi mari kita sama-sama brief kaji mengenai manhaj salaf. Semoga kajian sedikit ini boleh membawa kita kepada kajian-kajian yang seterusnya dan pemahaman agama yang berada pada jalan kebenaran.

Saya memang tidak pandai mengulas dan mengarang + takut silap karang, jadi saya copy paste saja dari web al-Fikrah.net. Harap tidak menjadi masalah.

Para pembaca yang budiman semoga Allah menunjuki kita kepada kebenaran. Salaf dan salafi mungkin merupakan kata yang masih asing bagi sebagian orang atau kalau toh sudah dikenal namun masih banyak yang beranggapan bahwa istilah ini adalah sebutan bagi suatu kelompok baru dalam Islam. Lalu apa itu sebenarnya salaf? Dan apa itu salafi? Semoga tulisan berikut ini dapat memberikan jawabannya.

Pengertian Salaf

Salaf secara bahasa berarti orang yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya,

“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). Dan Kami jadikan mereka sebagai SALAF dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.”
(QS. Az Zukhruf: 55-56),

yakni kami menjadikan mereka sebagai SALAF -yaitu orang yang terdahulu- agar orang-orang sesudah mereka dapat mengambil pelajaran dari mereka (salaf).

Oleh karena itu, Fairuz Abadi dalam Al Qomus Al Muhith mengatakan,
“Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang dan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu.”(Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani, ‘Amr Abdul Mun’im Salim dan Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih, Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary)

Kata ‘Salaf’ Tidaklah Asing di Kalangan Ulama

Mungkin banyak orang saat ini yang merasa asing dengan kata salaf, namun kata ini tidaklah asing di kalangan ulama. Imam Bukhari -ahli hadits terkemuka- menuturkan, “Rasyid bin Sa’ad mengatakan, ‘Dulu para SALAF menyukai kuda jantan, karena kuda seperti itu lebih tangkas dan lebih kuat’.” Kemudian Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa salaf tersebut adalah para sahabat dan orang setelah mereka.

Imam Nawawi -ulama besar madzhab Syafi’i- mengatakan dalam kitab beliau Al Adzkar, “Sangat bagus sekali doa para SALAF sebagaimana dikatakan Al Auza’i rahimahullah Ta’ala, ‘Orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat istisqo’ (minta hujan), kemudian berdirilah Bilal bin Sa’ad, dia memuji Allah …’.” Salaf yang dimaksudkan oleh Al Auza’i di sini adalah Bilal bin Sa’ad, dan Bilal adalah seorang tabi’in. (Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani)

Siapakah Salaf?

Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya
kemudian generasi sesudahnya lagi.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi).


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan ‘kebaikan’ tiga generasi awal umat ini yang menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka, semangat mereka dalam melakukan kebaikan, luasnya ilmu mereka tentang syari’at Allah, semangat mereka berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih dan Mu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Muhammad Kholifah At Tamimi)


Wajib Mengikuti Jalan Salafush Sholih

Setelah kita mengetahui bahwa salaf adalah generasi terbaik umat ini, maka apakah kita wajib mengikuti jalan hidup salaf?

Allah telah meridhai secara mutlak para salaf dari kaum muhajirin dan anshor serta kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
(QS. At-Taubah: 100).


Untuk mendapatkan keridhaan yang mutlak ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti salafush sholih.


Allah juga memberi ancaman bagi siapa yang mengikuti jalan selain orang mukmin. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam,
dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

(QS. An-Nisa: 115).

Yang dimaksudkan dengan orang-orang mukmin ketika ayat ini turun adalah para sahabat (para salaf). Barangsiapa yang menyelisihi jalan mereka akan terancam kesesatan dan jahannam. Oleh karena itu, mengikuti jalan salaf adalah wajib.


Menyandarkan Diri Pada Salafush Sholih

Setelah kita mengetahui bahwa mengikuti jalan hidup salafush sholih adalah wajib, maka bolehkan kita menyandarkan diri pada salaf sehingga disebut salafi (pengikut salaf)? Tidakkah ini termasuk golongan/kelompok baru dalam Islam?

Jawabannya kami ringkas sebagai berikut:

[1]
Istilah salaf bukanlah suatu yang asing di kalangan para ulama,
[2] Keengganan untuk menyandarkan diri pada salaf berarti berlepas diri dari Islam yang benar yang dianut oleh salafush sholih,
[3] Kenapa penyandaran kepada berbagai madzhab/paham dan pribadi tertentu seperti Syafi’i (pengikut Imam Syafi’i) dan Asy’ari (pengikut Abul Hasan Al Asy’ari) tidak dipersoalkan?! Padahal itu adalah penyandaran kepada orang yang tidak luput dari kesalahan dan dosa!!
[4] Salafi adalah penyandaran kepada kema’shuman secara umum (keterbebasan dari kesalahan) sehingga memuliakan seseorang,
[5] Penyandaran kepada salaf bertujuan untuk membedakan dengan kelompok lainnya yang semuanya mengaku bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah, namun tidak mau beragama (bermanhaj) seperti salafush sholih yaitu para sahabat dan pengikutnya.

(Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh al-Albani).

Kesimpulannya sebagaimana dikatakan Syaikh Salim Al Hilali, “Penamaan salafi adalah bentuk penyandaran kepada salaf. Penyandaran seperti ini adalah penyandaran yang terpuji dan cara beragama (bermanhaj) yang tepat. Dan bukan penyandaran yang diada-adakan sebagai madzhab baru.” (Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salaf)

Solusi Perpecahan Umat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusi mengenai perpecahan umat Islam saat ini untuk berpegang teguh pada sunnah Nabi dan sunnah khulafa’ur rasyidin -yang merupakan salaf umat ini-. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Dan sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian terhadap sunnahku dan sunnah khulafa’rosyidin yang mendapat petunjuk. Maka berpegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.”
(Hasan Shohih, HR. Abu Daud dan Tirmidzi)


Jalan Salaf Adalah Jalan yang Selamat

Orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’
Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.”

(HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani).

Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’

Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,
‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘

(HR. Tirmidzi)

Sebagai nasihat terakhir, ‘Ingatlah, kata salafi -yaitu pengikut salafush sholih- bukanlah sekedar pengakuan (kleim) semata, tetapi harus dibuktikan dengan beraqidah, berakhlak, beragama (bermanhaj), dan beribadah sebagaimana yang dilakukan salafush sholih.’

Ya Allah, tunjukilah kami pada kebenaran dengan izin-Mu dari jalan-jalan yang menyimpang dan teguhkan kami di atasnya. Alhamdulillahillazi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Terima Kasih - Thank You- Syukran Jazilan- Pounsikou everyone for reading this post. If you find this post somehow inappropriate in any term "you-like-to-define", kindly specify your suggestions or comments in comments box below.
Manittaba'al Huda Wal 'Inayah Minallahi Ta'ala

Thursday, February 19, 2009

Surat Layang / Berantai DIGITAL VERSION...

Post yang terbaru sebelum ini, saya menyentuh tentang email forward. Kali ini juga sama, kerana ala-ala forward juga lah. Kalau dulu surat-surat layang semacam ini didapati melalui kaedah pos atau kertas yang difotokopi. Namun di zaman millenium-computerize-SMS sekarang, kita dengan mudah sahaja menerima dan memforward surat-surat atau mesej layang-layangan ini di hujung jari... Ada yang dari Penjaga Pintu Kaabah la, Pemegang Kunci Pintu Kaabah la, Penjaga Kubur Nabi dan sebagainya. Jadi macam mana sebenarnya kes macam ini ni? So saya bawakan lagi satu post lagi sebuah blog untuk tatapan bersama. Sebarang komen, sila komenkan. =). Ayat-ayat Al-Quran tidak saya sertakan kerana masalah font di Blogger. Rujuk artikel asal di blog ini.

Wasiat Bohong dari ‘Syaikh Ahmad’

(Penjaga Kubur Rasulullah)

Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baaz

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, ditujukan kepada siapa saja diantara orang-orang Islam yang mendapatkan surat ini, semoga Allah menjaga mereka dengan agama Islam, dan melindungi kita serta mereka dari kejahatan para pendusta yang bohong dan tengik.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Amma ba’du:

Kami telah membaca edaran yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad Khodim Al Haram An Nabawi, dengan judul:

“Ini adalah wasiat dari Madinah Munawwarah dari Ahmad Khodim Al Haram An Nabawi ”

Dalam wasiat ini dikatakan: pada suatu malam Jum’at aku pernah tidak tidur, membaca Al Qur’an, dan setelah membaca Asma’ul Husna aku bersiap siap untuk tidur, tiba tiba aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah membawa ayat ayat Al Qur’an dan hukum hukum yang mulia, kemudian beliau berkata: wahai Syaikh Akhmad, aku menjawab: ya, ya Rasulullah, wahai orang yang termulia diantara makhluk Allah, beliau berkata kepadaku: aku sangat malu atas perbuatan buruk manusia itu, sehingga aku tak bisa menghadap Tuhanku dan para malaikat, karena dari hari Jum’at ke Jum’at telah meninggal dunia sekitar seratus enam puluh ribu jiwa (160 000) dengan tidak memeluk agama Islam.

Kemudian beliau menyebut contoh contoh dari perbuatan maksiat itu, dan berkata: “maka wasiat ini sebagai rahmat bagi mereka dari Allah MahaPerkasa”, selanjutnya beliau menyebutkan sebagian tanda tanda hari kiamat dan berkata: “wahai Syaikh Ahmad, sebarkanlah wasiat ini kepada mereka, sebab wasiat ini dinukil dari Lauhul Mahfudz, barang siapa yang menulisnya dan mengirimnya dari suatu negara ke negara lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain, baginya disediakan istana dalam sorga, dan barang siapa yang tidak menulis dan tidak mengirimnya, maka haramlah baginya syafaatku di hari kiamat nanti, barang siapa yang menulisnya sedangkan ia fakir maka Allah akan membuat dia kaya, atau ia berhutang maka Allah akan melunasinya, atau ia berdosa maka Allah pasti mengampuninya, dia dan kedua orang tuanya, berkat wasiat ini, sedangkan barang siapa yang tidak menulisnya maka hitamlah mukanya di dunia dan akhirat.”

Kemudian beliau melanjutkan: “Demi Allah 3x wasiat ini adalah benar, jika aku berbohong, aku keluar dari dunia ini dengan tidak memeluk agama Islam, barang siapa yang percaya kepada wasiat ini, ia akan selamat dari siksaan neraka, dan jika tidak percaya maka kafirlah ia.”

Inilah ringkasan dari wasiat bohong yang dikatakan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu, kita telah berkali kali mendengar wasiat bohong ini, yang mana telah tersebar luas dikalangan umat manusia secara terus menerus, anehnya hal ini sangat laku dikalangan umum.
Dalam wasiat tersebut terdapat beberapa ungkapan yang saling kontradiktif, diantaranya pendusta itu mengatakan bahwa ia (Syaikh Ahmad) melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak tidur, berarti ia melihatnya ketika berjaga (tidak dalam mimpi), ia juga telah mendakwakan (dalam wasiat itu) berbagai hal yang jelas jelas bohong dan bathil, dan kami akan terangkan nanti Insya Allah.

Pada tahun tahun yang lalu kami telah menjelaskan kepada semua orang tentang kebohongan dan kebatilan wasiat itu secara terang-terangan, ketika kami membaca selebaran terahir ini, kami ragu-ragu menulisnya, karena jelas kebatilannya dan keberanian pembohong itu, dan kami tidak menduga sebelumnya hal itu bisa laku di kalangan orang-orang berakal sehat, bahkan banyak dari kawan kami yang memberitahukan, bahwa wasiat bohong itu telah tersebar diantara mereka, dan ada yang mempercayainya.

Atas dasar itu semua kami memandang perlu untuk menulisnya; menjelaskan ketidakbenaran dan kebohongan wasiat itu terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tak seorangpun dapat tertipu olehnya.

Barang siapa diantara para ahli ilmu yang beriman dan orang orang yang berfikiran sehat mau mempelajarinya, niscaya ia akan tahu bahwa hal itu adalah kebohongan ditinjau dari beberapa segi, kami telah menanyakan kepada keluarga dekat Syaikh Ahmad yang wasiat bohong itu dinisbatkan kepadanya, tetapi mereka mengingkari kebohongan itu, bahkan hal itu merupakan pembohongan terhadap almarhum Syaikh Ahmad, sebab beliau belum pernah mengatakannya sama sekali, dan beliau telah lama meninggal dunia, seandainya Syaikh Ahmad tersebut maupun yang lebih hebat daripadanya mendakwakan bahwasanya ia melihat Nabi Muhammad ketika sedang tidur atau berjaga, kemudian mewasiatkan seperti ini, pasti kita tahu bahwa hal itu bohong belaka, atau yang mengatakan kepadanya setan bukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, berdasarkan keterangan keterangan di bawah ini.

Diantaranya: bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan dapat dilihat oleh seseorang ketika ia berjaga setelah beliau wafat, jika ada dari kalangan sufi yang mendakwakan bahwasanya ia melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia berjaga setelah ia wafat, atau beliau menghadiri peringatan maulid atau yang lainnya, maka betul-betul ia telah berbuat salah dan menyeleweng, karena sesungguhnya mayat itu akan bangkit dari kuburnya pada hari kiamat, bukan di dunia sekarang ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Kemudian sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian pasti akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat” (Al Mu’minun, 15-16).

Dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwasanya kebangkitan mayat itu pada hari kiamat bukan di dunia seperti sekarang ini, barang siapa yang menyalahi itu berarti ia jelas pembohong dan penyeleweng, ia tidak mengetahui kebenaran sebagaimana telah diketahui oleh ulama salaf, para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan para pengikut mereka dengan sebaik-baiknya.

Kedua: bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengatakan sesuatu berlawanan dengan yang hak, baik di masa hidupnya maupun sesudah wafatnya, dan wasiat di atas tadi benar-benar telah menyalahi syariatnya secara terang terangan ditinjau dari beberapa segi seperti di bawah ini.

Memang kadang kadang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dapat dilihat dalam mimpi, barang siapa yang melihat wajah beliau yang mulia, berarti ia betul-betul melihatnya, karena syaithan tidak bisa meyerupai wajah beliau, sebagaimana hal itu dijelaskan dalam hadits hadits shohih. Yang paling penting ialah bagaimana keimanan orang yang mimpi tersebut, kejujurannya, keadilannya, hafalannya, agamanya dan amanatnya ? Apakah ia melihat wajah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam atau yang lainnya ? Jika ada hadits disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di masa hidupnya diriwayatkan tidak melalui jalur orang orang terpercaya, adil dan kuat hafalannya, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan landasan huhum (argumen), atau hadits tersebut melalui jalur di atas, tapi bertentangan dengan riwayat para perowi lain yang lebih terpercaya dan lebih kuat hafalannya, sedangkan tidak ada jalur sanad yang lain untuk dikorelasikan, maka yang pertama dimansukh (dihapus masa berlakunya) oleh yang kedua, dan tidak boleh diamalkan, dan hadits kedua sebagai nasikh, boleh diamalkan dengan syarat syarat tertentu jika memungkinkan, jika tidak memungkinkan untuk dikorelasikan maka yang lebih lemah hafalannya dan lebih rendah tingkat keadilannya harus ditinggalkan, berarti kedudukan hadits tadi syadz (bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak bisa diamalkan.

Sekarang bagaimana dengan penyampaian wasiat yang tidak diketahui bahwa ia telah menukil dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak diketahui keadilan dan amanatnya ? Benar-benar wasiat ini harus ditinggalkan dan tidak perlu diperhatikan, walaupun isinya tidak bertentangan dengan syariat Islam, dan harus lebih ditinggalkan jika wasiat itu mencakup hal hal yang menunjukkan kebatilan dan kebohongan terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mencakup pensyariatan agama yang tidak diizinkan oleh Allah, sedangkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Barang siapa yang mengatakan sesuatu hal (yang dinisbatkan kepada saya) yang saya sendiri tidak pernah mengatakannya maka bersiaplah ia menduduki tempatnya dari api neraka.”

Pendusta itu telah mengatakan wasiat itu dari Rasulullah, sedangkan beliau tidak pernah mengatakannya, berarti ia telah berdusta pada Rasulullah dan pada dirinya sendiri, bagaimana ia akan bebas dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat pedih itu, jika ia tidak cepat-cepat bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan memberitahukan kepada khayalak ramai bahwa ia telah mendakwakan dengan kebohongan wasiat itu atas diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebab orang yang telah menyebarkan kebatilan diantara manusia tidak akan diterima taubatnya kecuali dengan mengumumkannya, sehingga diketahui oleh mereka bahwa ia telah kembali kepada jalan yang lurus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Sesungguhnya orang orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan, berupa keterangan keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat(pula)oleh semua (makhluk)yang dapat melaknat, kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebaikan), maka terhadap merekalah Aku (Allah) menerima taubatnya dan Akulah penerima taubat lagi MahaPenyayang” (Al Baqarah, 159-160).

Dalam ayat di atas, Allah telah menjelaskan barang siapa yang menyembunyikan suatu kebenaran, maka taubatnya tidak akan diterima, kecuali jika ia mengadakan perbaikan dan menjelaskan kebenaran tersebut, Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi hamba-Nya, dan menyempunakan ni’mat-Nya kepada mereka dengan mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan wahyu yang diturunkan kepadanya adalah sempurna, beliau tidak akan dicabut nyawanya kecuali telah disempurnakan agama-Nya, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya (bermaksud):

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nu’matKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu” (Al Maidah, 3).

Pendusta wasiat ini telah datang pada abad keempat belas untuk mengelabuhi manusia dan mensyariatkan kepada mereka agama baru, barang siapa yang mengikutinya, maka baginya disediakan sorga, dan barang siapa yang menolak syariat itu, maka baginya disediakan neraka. Dengan demikian ia hendak menjadikan wasiat ini lebih baik dari Al Qur’an, yang mana jika seseorang tidak menulisnya dan tidak mengirimkannya dari suatau negara ke negara lainnya diharamkan baginya syafaat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat, ini merupakan pembohongan yang paling hina dan jelas sekali, betapa tidak punya malu pembohong itu, ia telah berani berbuat bohong, kerena barang siapa yang menulis Al Qur’an yang mulia dan mengirimkannya dari suatu negara ke negara yang lain, atau dari suatu tempat ke tempat yang lainnya, tidak akan mendapatkan keutamaan seperti itu jika ia tidak mengamalkan kandungannya, bagaimana ia bisa memperoleh keutamaan itu jika hanya menulis dan mengirimkan wasiat bohong itu dari suatu negara ke negara yang lain.

Barang siapa yang tidak menulis Al Qur’an dan tidak mengirimkannya dari suatu negara ke negara yang lain, maka tidak diharamkannya baginya syafaat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, jika ia benar-benar mengimaninya dan mengikuti syariatnya, satu kebohongan dalam wasiat ini saja sudah menjadi bukti atas kebatilannya, kebohongannya yang jelas, kecerobohan, kebodohan, dan jauhnya dari ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain apa yang telah kami sebutkan tadi, masih banyak lagi hal-hal yang menunjukkan ketidakbenaran wasiat tersebut, walaupun pendusta itu bersumpah seribu kali atau lebih atas kebenarannya.

Seandainya pembuat wasiat itu bersumpah, jika ia berdusta pasti ia akan tertimpa azab yang sangat pedih sebagai saksi atas kebenarannya, maka tetap ia tidak bisa dipercaya, dan wasiat itu tidak berubah menjadi benar, bahkan saya berani bersumpah demi Allah dan demi Allah, bahwa perbuatan itu merupakan kebohongan yang paling besar dan kebatilan yang paling hina, kita bersaksi kepada Allah dan kepada malaikat yang telah datang kepada kita dan kepada kaum muslimin yang telah memperoleh tulisan ini, suatu kesaksian kita sampaikan kepada Allah, bahwasanya wasiat ini dusta dan bohong kalau dinisbatkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, semoga Allah membuat hina orang orang yang menisbatkan wasiat itu kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, dan menyiksanya sesuai dengan perbuatannya.

Diantara sekian banyak kebatilan dan kebohongan wasiat tersebut adalah:

Pertama:
Isi kandungan wasiat tersebut yang berbunyi: “karena dari Jum’at ke Jum’at telah meninggal dunia sekitar 160.000 orang dengan tidak memeluk agama Islam ”, kerena hal itu merupakan ilmu ghaib, dan wahyu bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berhenti setelah beliau wafat, sedangkan pada masa hidupnya beliau tidak tahu ilmu ghoib, mana mungkin hal itu bisa terjadi sepeninggal beliau ?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghoib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat, aku mengetahui apa yang telah diwahyukan kepadaku, katakanlah, apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat ? maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (Al An’am, 50).

“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghoib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan” (An Naml, 65).

Dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Banyak orang orang yang dijauhkan dari telagaku pada hari kiamat nanti, maka aku berkata: ya Rabb, mereka adalah sahabat sahabatku, mereka sahabat sahabatku, maka dikatakan kepadaku: sesungguhnya engkau tidak tahu tentang apa yang mereka perbuat setelah engkau wafat ?, maka aku berkata sebagaimana hamba sholeh(Nabi Isa) berkata: “Dan aku menjadi saksi bagi mereka selama aku hidup bersama mereka, maka setelah Engkau telah mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi penguasa bagi mereka dan sesungguhnya Engkau MahaMengetahui atas segala sesuatu.”

Kedua:
Ungkapan yang mengatakan: “barang siapa yang menulisnya sedangkan ia orang fakir, maka Allah akan menjadikan kaya, atau ia berhutang maka Allah akan melunasinya, atau ia berdosa maka Allah akan mengampuninya serta kedua orang tuanya berkat wasiat ini, … dan seterusnya”, ini merupakan kebohongan besar dan bukti nyata atas kebohongan pedusta itu, betapa ia tidak punya malu terhadap Allah dan hamba hambaNya, karena ketiga hal di atas tidak bisa dicapai hanya dengan menulis Al Qur’an, apalagi menulis wasiat ini yang jelas batilnya, tidak lain pelaku dosa ini hanyalah akan mengkaburkan manusia saja, serta menjadikan mereka selalu bergantung kepada wasiat itu, sehingga mereka mau menulisnya dan mengelu elukan keutamaan yang dijanjikan, dengan meninggalkan tuntunan yang telah disyari’atkan Allah kepada hamba hambaNya, ia menjadikan wasiat itu sebagai sarana mencapai kekayaan, membayar hutang, dan ampunan Tuhan, kita berlindung kepada Allah dari kehinaan, mengikuti hawa nafsu dan syaithan.

Ketiga:
Isi kandungannya yang berbunyi: “Sedangkan barang siapa yang tidak menulisnya, maka hitamlah mukanya di dunia dan akhirat.”

Ini juga merupakan kebohongan besar dan bukti nyata atas kebatilan wasiat tersebut serta pengecutnya pendustanya, mana ada orang yang berakal akan menerima perkataan itu, pembawa wasiat itu adalah seorang manusia yang hidup pada abad keempat belas hijriyah, dan tidak diketahui identitasnya, ia mendakwakan kebohongan atas diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan anggapan bahwa barang siapa yang menulisnya akan dijamin dengan tiga jaminan di atas.

MahaSuci Engkau Ya Allah, ini merupakan kebohongan yang besar, bukti bukti dan realita yang secara empiris telah menunjukkan atas kebohongan pendusta itu, betapa besar dosanya di sisi Allah, sebab kelancangannya benar-benar ia tidak punya malu terhadap Allah dan semua manusia, karena telah banyak orang yang tidak menulis wasiat ini, namun mereka toh mukanya tidak hitam, di lain pihak telah banyak orang yang menulis wasiat ini, namun mereka masih juga tetap tidak bisa membayar hutangnya, dan tetap saja dalam kefakirannya.

Maka marilah kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kecenderungan hati dan dari kotoran dosa, sifat-sifat dan balasan-balasan di atas tidak pernah di janjikan oleh syariat yang mulia bagi orang orang yang menulis kitab suci Al Qur’an, kitab yang paling mulia dan paling agung, bagaimana hal itu bisa dicapai oleh orang yang menulis wasiat bohong, wasiat yang mencakup berbagai kebatilah, dan dihiasi bermacam macam kekafiran.

MahaSuci Allah, alangkah sabarnya Dia (Allah) terhadap hamba hamba yang berbuat dusta atas-Nya.

Keempat:
Isi wasiat ini berbunyi: “Barang siapa yang percaya kepada wasiat ini, pasti akan selamat dari siksaan neraka, jika tidak percaya kafirlah dia.”

Ini juga merupakan keberanian yang luar biasa untuk berbuat bohong, dengan kebatilannya pendusta itu mengajak semua manusia untuk mempercayai tipu dayanya, ia mengira bahwasanya mereka akan selamat dari api neraka jika memang mau mempercayainya, dan barang siapa yang tidak mempercayainya maka ia pantas dianggap kafir, demi Allah, pembohong itu tidak mengatakan sesuatu yang haq, bahkan sebaliknya, jika ada orang yang mempercayainya maka ia pasti dianggap kafir, bukan orang yang mendustakannya karena dakwaannya tidak berdasar dalil.

Kita bersaksi kepada Allah, bahwasanya dakwaan itu adalah bohong belaka, pendusta itu hendak mensyariatkan kepada manusia apa apa yang tidak di izinkan Allah, dan sengaja memasukkan sesuatu hal baru dalam agama mereka apa apa yang tidak ada didalamnya, sedangkan Allah telah melengkapi dan mencukupkan agama umat ini, sejak empat belas abad yang silam, yaitu sebelum datangnya pendusta ini.

Maka berwaspadalah, wahai para sidang pembaca dan kawan-kawan seagama, janganlah percaya terhadap dakwaan-dakwaan dusta seperti ini, jauhilah penyebarannya di kalangan anda sekalian, karena yang haq selalu disinari oleh cahaya yang tidak kabur, carilah kebenaran disertai dalilnya, bertanyalah kepada para Ulama jika kamu mendapatkan kesulitan, dan janganlah tertipu oleh sumpah sumpah bohong pendusta, karena iblis telah bersumpah kepada kedua orang tua kita yaitu Adam dan Hawa, bahwasanya ia sebagai penasehat bagi keduanya, padahal ia tak lain adalah gembong penghianat dan pendusta ulung, sebagaimana yang diceritakan Allah dalam Al Qur’an (maksudnya):

“Dan dia (syaithan) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa), sesungguhnya saya adalah termasuk orang orang yang memberi nasehat kepadmu sekalian ” (Al A’raf, 21).

Maka dari itu, anda sekalian harus selalu waspada terhadap pendusta ini dan para pengikutnya, sebab banyak diantara mereka yang mempunyai sumpah bohong, mengingkari janji, dan menghiasi perkataan-perkataannya untuk membujuk dan menyesatkan.

Semoga Allah tetap memelihara kami, anda sekalian dan kaum muslimin semua dari segala kejahatan syaithan, fitnah orang-orang yang menyesatkan, penyelewengan orang orang yang menyimpang, dan tipu daya musuh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka hendak membaurkan agama dan memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka dan mengkaburkan agamaNya bagi umat manusia, tetapi Allah pasti menyempurnakan cahaya-Nya serta menolong agama-Nya, walaupun musuh musuh-Nya baik dari kelompok syaithan dan pengikutnya maupun orang orang kafir dan atheis itu tidak rela.

Adapun hal hal yang telah disebutkan pendusta ini tentang timbulnya kemungkaran-kemungkaran adalah realitas, dan Al Qur’an dan hadits pun telah memperingatkan kita sejauh mungkin, pada keduanya (Al Qur’an dan Hadits) terdapat hidayah dan kecukupan.

Mari kita memohon kepada Allah, agar berkenan memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memberi karunia kepada mereka untuk tetap mengikuti yang haq dan tetap konsisten dalam menjalankannya, serta mau bertaubat kepada-Nya dan meminta ampunan-Nya dari segala macam dosa, karena sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat, Pemurah dan berkuasa atas segala galanya.

Adapun yang telah disebutkan tentang tanda-tanda hari kiamat, maka hal itu sudah dijelaskan oleh hadits-hadits shahih, selain juga Al Qur’an telah menyinggung sebagian saja, barang siapa yang ingin mengetahuinya ia dapat mendapatkannya pada bab-bab tertentu dalam buku buku hadits serta karangan karangan para ahli ilmu dan iman.

Akhirnya, sudah cukup jelas bagi kita bahwa kebohongan pendusta itu tidak diragukan lagi, karena ia telah mengkaburkan dan mencampur adukan antara yang haq dan yang batil, cukup Allahlah sebagai penolong kita, Dia sebaik baik pelindung, tak ada kekuasaan dan kekuatan apapun kecuali di tangan Allah.

(Dikutip dari الحذر من البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”)

Terima Kasih - Thank You- Syukran Jazilan- Pounsikou everyone for reading this post. If you find this post somehow inappropriate in any term "you-like-to-define", kindly specify your suggestions or comments in comments box below.
Manittaba'al Huda Wal 'Inayah Minallahi Ta'ala

Beware of What We Forward!

Beberapa hari yang lalu saya mendapat message forward dari seorang kawan di Friendster. Biasalah email kat Friendster ni saya jarang buka. Sebab selalunya email forward yang sama dari beberapa orang. Kadang-kadang buka la, sebab ada juga email-email dari kawan-kawan yang tersesat mengemail di situ. Nasihat saya baik gunakan email Yahoo atau Gmail atau Hotmail untuk email-email penting supaya sampai dan dibaca.

Anyway, nak ceritanya, email-email di Friendster selalunya memang berunsur Islamik dan bertujuan baik. Untuk mengajak muhasabah diri dan sebagainya. Tetapi kadang-kala saya merasakan bahawa email itu sekadar di forward dan tidak terlalu difikir-fikirkan sangat isi kandungannya. Namun yang kali ini punya, setelah membacanya, saya merasa amat tidak sedap hati. Hmm kenapa? Lu fikir la sendiri! Eh tak, gurau je... Nanti anda baca sendiri di bawah ini ya. Dan saya telah meminta pandangan seorang ustaz mengenai isi kandungan email tersebut. So, komen ustaz itu saya letakkan di bawah sekali post ini. Harap baca hingga ke akhir untuk mengetahuinya.


Tajuk message forward tersebut ialah: SURAT SAYANG DARI ALLAH

(perkataan yang dihighlight merah adalah antara perkataan yang membuatkan saya (dan anda) tidak sedap hati membacanya...)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saat kau bangun pagi hari,
AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU,
walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kelmarin ……
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU,
tetapi engkau terlalu sibuk.
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kerusi selama lima belas minit tanpa melakukan apapun.
Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu.
AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telefon dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan khabar terbarunya.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling,
mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU,
itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rezeki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya …….
masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU,
meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya,
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan.
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU ………
Saat tidur, KU fikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namaKU, kau sebut.
Engkau menyedari bahwa AKU selalu hadir untukmu. AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do’a, fikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya …… engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahawa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU …….Tapi yang KU tunggu…… .. tak kunjung tiba …… tak juga kau menyapaKU.
Subuh …….. Zuhur ……. Asar ……….Mahgrib ……… Isya’ dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU…. tak ada sepatah kata, tak ada seucap do’a, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU

Apa salahKU padamu …… wahai HAMBAKU?????

Rezeki yang KU limpahkan, kesihatan yang KU berikan, harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan, anak-anak yang KU rahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat KepadaKU…. ……..! !!!!!! Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa KU,
memohon perlindungan KU, bersujud menghadap KU …… Yang selalu menyertaimu setiap saat …

Note: apakah kita memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada orang2 yang kita sayangi???
untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang kita terima hingga saat ini, dat
angnya hanya dari ALLAH semata…… …….

--------------------------------End of message-------------------------------------

So, begitulah isi message tersebut. Jadi inilah komen dari ustaz yang saya bertanya itu... Saya copy pastekan saja. Kalau ada tambahan dari pihak anda dan mana-mana, sila put dalam ruang comments ok.


Pertama: Tindakan penulis ini membuat ayat seumpama ini lalu menyandarkannya kepada Allah s.w.t adalah tindakan mereka-reka hadis palsu bahkan lebih dahsyat mencipta wahyu palsu. Azab orang yang mencipta ayat atau perkataan kemudian menyandarkan kepada Allah tanpa dalil al-Qur'an dan Hadis adalah sebagaimana dalam firman Allah (maksudnya):

Dan kalaulah (Nabi Muhammad yang menyampaikan Al-Quran itu) mengatakan atas nama Kami secara dusta sebarang kata-kata rekaan;Sudah tentu Kami akan menyentapnya, dengan kekuasaan Kami.Kemudian sudah tentu Kami akan memutuskan tali jantungnya (supaya ia mati dengan serta-merta).[al-Haqqah:44-46].

Sabda Nabi s.a.w(mafhumnya):

"Sesiapa yang berdusta atas namaku maka sipakanlah tempatnya di neraka" [al-Bukhari & Muslim].

Kedua: Dalam ayat-ayat yang dicipta ini juga mempunyai perkataan yang tidak sesuai dengan sifat-sifat Allah s.w.t dan yang paling teruk adalah fikir, harap, salah, dan sebagainya. Ini jelas menyamakan Allah s.w.t dengan makhluk dan penulis risalah ini jika dia seorang muslim dan dia menulisnya dengan sengaja dan tahu kesalahannya ini maka dia kufur dengan serta merta. Nauzubillah min zalik.

Ketiga: Saya juga cenderung untuk menyatakan bahawa risalah ini ditulis oleh pihak musuh Islam untuk memurtadkannya umat Islam. Nauzubillah min zalik.

Keempat: Saya nasihatkan kepada sahabat dan saudara/ri yang ingin berdakwah dengan cara ini, lebih baik mereka menyebarkan terjemahan al-Qur'an dan Hadis-hadis Nabi s.a.w yang boleh didapati dengan mudah dalam bahasa melayu di: www.islam.gov.my dan www.al-islam.com. Wallahua'lam.

Jadi pengajarannya untuk kita, marilah kita berhati-hati dalam forward memorward messages..

Terima Kasih - Thank You- Syukran Jazilan- Pounsikou everyone for reading this post. If you find this post somehow inappropriate in any term "you-like-to-define", kindly specify your suggestions or comments in comments box below.
Manittaba'al Huda Wal 'Inayah Minallahi Ta'ala

Tuesday, February 17, 2009

Kemaraan Syiah Di Bumi Malaysia

OLEH: MUHAMMAD ASRIE BIN SOBRI

Dipetik dari Blog BahayaIran

Dalam kesibukan negara Iran menyambut ulang tahun ke-30 Revolusi Syiah Iran, kita menjadi agak terkejut melihat sasaran pengembangan ajaran Syiah kali ini menghala ke arah Asia Tenggara dan lebih tepat ke Malaysia.

Memang pergerakan syiah telah lama dihidu di Malaysia ini kerana dari segi sejarah Tanah Melayu juga dipercayai ajaran Syiah pernah menjadi anutan rasmi beberapa kerajaan Melayu lama. Maka tindakan Iran kali ini yang dilihat sedang menghalakan meriam Syiah-nya ke Malaysia seolah-olah ingain menakluk semula Tanah Melayu ini.


Suatu ketika dahulu kita dikecohkan dengan tindakan seorang Syiah, Faisal Tehrani yang memuatkan novel bersiri Syiah karyanya dalam Harian Metro kemudian diikuti kemunculan penganalisis Syiah di kaca televisyen dan diikuti pula terbongkrnya rahsia bahawa ajaran kufur ini selama ini bergerak di bawah cahaya bulan Purnama yang menjadi lambang sebuah parti politik Malaysia.


Mungkin ramai pihak jahil atau sengaja menjahilkan diri bahawa ajaran Syiah adalah suatu bentuk ajaran sesat yang wajar dihindari berdasarkan fatwa Majlis Fatwa Kebangsaan sebagai berikut:


a) Bersetuju supaya keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa yang telah diadakan pada 24 dan 25 September 1984 [Kertas Bil. 2/8/84, Perkara 4.2. (2)] mengenai aliran Syiah yang menetapkan seperti berikut :


“Setelah berbincang dan menimbang kertas kerja ini Jawatankuasa telah mengambil keputusan bahawa hanya Mazhab Syiah dari golongan Al-Zaidiyah dan Jaafariah sahaja yang diterima untuk diamalkan di Malaysia.” Dimansuhkan.


b) Menetapkan bahawa umat Islam di Malaysia hendaklah hanya mengikut ajaran Islam yang berasaskan pegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah dari segi Aqidah, Syariah dan Akhlak.


c) Menyokong dan menerima cadangan pindaan Perlembagaan Persekutuan dan Perlembagaan Negeri-Negeri bagi memperuntukkan dengan nyata bahawa agama bagi Persekutuan dan Negeri-Negeri hendaklah agama Islam yang berasaskan pegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah dari segi Aqidah, Syariah dan Akhlak.


d) Memperakukan pindaan kepada semua Undang-Undang Negeri yang Hukum Syarak bagi menyelaraskan takrif “Hukum Syarak” atau “Undang-Undang Islam” seperti berikut :


“Hukum Syarak atau “Undang-Undang Islam” ertinya Undang-Undang Islam yang berasaskan pegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah dari segi Aqidah, Syariah dan Akhlak.”


e) Memperakukan bahawa ajaran Islam yang lain daripada pegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah adalah bercanggah dengan Hukum Syarak dan Undang-Undang Islam; dan dengan demikian penyebaran apa-apa ajaran yang lain daripada pegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah adalah dilarang.


f) Menetapkan bahawa semua umat Islam di Negara ini adalah tertakluk kepada Undang-Undang Islam Hukum Syarak yang berasaskan pegangan kepada ajaran Ahli Sunnah Wal-Jamaah sahaja.


g) Menetapkan bahawa penerbitan, penyiaran dan penyebaran apa-apa buku, risalah, filem. Video dan lain-lain berhubung dengan ajaran Islam yang bertentangan dengan pegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah adalah diharamkan.


Ini adalah keputusan Muzakarah Fatwa Kebangsaan bertarikh 5 Mei 1996 yang sekaligus menunjukkan tindakan sesetengah pihak penyiaran yang giat menayangkan filem-filem daripada Iran baru-baru ini adalah bertentangan dengan undang-undang Syar’i negara ini kerana fatwa di atas adalah fatwa yang diwartakan.


Demikian juga cadangan menubuhkan cawangan Universiti Islam Azad iaitu universiti berfahaman Syiah Iran di Malaysia adalah tindakan yang bercanggah dengan undang-undang Syariah negara ini. Tindakan pihak tertentu yang terlalu memberi ruang kepada kerajaan Iran melakukan aktiviti mereka di negara ini amat dikesali. Kejahilan pihak-pihak berkenaan amat memalukan dan mengundang padah serta bencana kepada akidah umat.


Kerajaan Malaysia perlu lebih berhat-hati dengan muslihat kerajaan Iran yang memang ditubuhkan untuk menyebarkan agama mereka yang sangat kufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Ajaran Syiah yang mencela dan mencerca para Sahabat radiallahu’anhum dan menghina Ummul Mukminin Aisyah r.a dan Hafsah r.a bahkan mencerca dan menghina Allah s.w.t.


Pihak bertanggungjawab dalam urusan Islam di negara ini perlu lebih peka dalam isu-isu sebegini supaya mereka tidak lagi dianggap sebagai lembam dan dicucuk hidung. Mereka sepatutnya senantiasa mengawal apa jua bentuk penyebaran ajaran sesat dalam kalangan Umat Islam Malaysia ini bukan sekadar ajaran yang dilihat mengancam kedudukan kerajaan sahaja yang perlu dibanteras bahkan semua ajaran sesat perlu dibanteras.


Kewujudan ajaran Syiah juga akan menggugat kedudukan kerajaan kerana Syiah hanya percaya kepada kepimpinan Faqih yang menjadi wakil Imam Mahdi mereka sahaja iaitulah Ayatullah Iran. Maka dengan menjadikan ajaran Syiah sebagai anutan penduduk Malaysia, secara otomatis Malaysia menjadi jajahan takluk Iran.


Semoga Allah s.w.t melindungi kita semua daripada bencana yang dahsyat ini dan semoga Allah s.w.t memberikan Taufiq dan Hidayah kepada pemerintah negara ini untuk bertindak pantas mengekang kemaraan Syiah ke dalam negara ini. Amin.

Lihat Fatwa di: http://www.e-fatwa.gov.my/jakim/keputusan_view.asp?keyID=150

Lihat Cadangan Penubuhan Universiti Azad di: http://bernama.com.my/bernama/v5/bm/newsindex.php?id=390148


Terima Kasih - Thank You- Syukran Jazilan- Pounsikou everyone for reading this post. If you find this post somehow inappropriate in any term "you-like-to-define", kindly specify your suggestions or comments in comments box below.
Manittaba'al Huda Wal 'Inayah Minallahi Ta'ala

Sunday, February 8, 2009

The WHYness, HOWness and WHATness


[Simply complicated]


Kuliah pagi, petang or malam, gantian?...
Pedagogi, falsafah, special education, psikologi, assessments, Method of teaching science? ...
Teori metafizik, tasawuf, Barat, teaching aids, approaches? ...
Lecturer, friends, room-mate, technicians, janitors?...
Yahoogroup, Blogger, Wordpress, Facebook, Friendster?
Tech-Ino, Core Duo, Vista, Microsoft 2007, cyber-cafe?...
Barrack Obama, Pak Lah, Perak MB, Ketua DPLI?
Biology Form 4, Kurikulum, EBD, Kaedah Mengajar, photostated?...
Aqidah, manhaj, Ahli Sunnah wal Jama'ah, Ikhwanul Muslimin, Salafi?...
Assignments grouping, individual, bloggers, printed-hardcopies?...
Micro-teaching, BIG, JK Kolokium, future housemates?...
Motivation, Spiritual, JERI, ushul fiqh, hadith dhaif?
Riadah futsal atau bola tampar 5.30 pm, court yang basah?...
Usrah, solat hajat [perdana?], Qunut Nazilah, Solat jemaah?...
Wednesday Community service, Friday evening Autism volunteering?...
Talk on Inclusive Education, loaded Malaysian Curriculum, sign-language?...
Sabtu's "Scouting" or "Sport-things"...
Ahad "Am I resting or relaxing?"
Holiday - Thaipusam - Never celebrating!

Allowance - simple question of WHEN?
Busy - hard question of WHY?
Way of life - superb question of WHAT and HOW?


...Alhamdulillahi 'ala kulli hal...

~ There is always a reason to smile ~


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini



Terima Kasih - Thank You- Syukran Jazilan- Pounsikou everyone for reading this post. If you find this post somehow inappropriate in any term "you-like-to-define", kindly specify your suggestions or comments in comments box below.
Manittaba'al Huda Wal 'Inayah Minallahi Ta'ala